METROBEKASI.ID - Menguatnya dolar AS membuat harga bahan baku tempe ikut melonjak.
Para pengrajin di Bekasi pun harus memutar otak agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan setia.
Mereka memilih tidak menaikkan harga jual dan menyiasatinya dengan mengurangi isi tempe yang dipasarkan.
Salah satunya dirasakan pengrajin tempe di Bekasi Timur, Bondan Daryono. Menurut pria berusia 48 tahun itu, harga kedelai saat ini naik menjadi Rp10.200 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp9.500 per kilogram.
Baca Juga: Terekam CCTV, Dua Maling Motor Gondol Honda Vario di Rawalumbu Bekasi
Kenaikan harga bahan baku tersebut membuat keuntungan usaha yang dijalaninya terus menurun.
“Kalau harga jual tempe tetap, cuma isinya dikurangi sedikit. Takut pelanggan kabur kalau harga naik,” ujar Bondan, seperti dikutip dari Instagram bekasireportid, Rabu (20/5/2026).
Dalam sehari, Bondan menghabiskan sekitar 100 kilogram kedelai untuk memenuhi pesanan pasar dan pelanggan tetapnya.
Selain harga kedelai, biaya operasional lain seperti plastik pembungkus juga ikut mengalami kenaikan.
Baca Juga: Jelang Iduladha, DKPPP Bekasi Sisir Lapak Hewan Kurban, Pastikan Sehat dan Bebas PMK
Akibat kondisi tersebut, keuntungan harian yang sebelumnya bisa mencapai sekitar Rp100 ribu kini turun menjadi kurang lebih Rp80 ribu per hari.
Menurut Bondan, kenaikan harga kedelai akibat penguatan dolar AS sebenarnya bukan pertama kali terjadi.
Namun, situasi saat ini terasa lebih berat karena hampir seluruh kebutuhan produksi ikut mengalami kenaikan harga.
Meski begitu, ia tetap berusaha mempertahankan kualitas tempe agar pelanggan tidak kecewa dan tetap membeli produknya.