Kamis, 4 Juni 2026

Dolar AS Tembus Rp17.667, Apindo Kota Bekasi: Dunia Industri Mulai Ketar-ketir soal Bahan Baku Impor

Noviati Fajar Anugrah, Metro Bekasi
- Selasa, 19 Mei 2026 | 15:44 WIB
Ketua Apindo Kota Bekasi, Farid Elhakamy, menyebut kenaikan kurs Dollar AS mulai terasa dampaknya, terutama bagi industri yang menggunakan bahan baku impor. (istimewa)
Ketua Apindo Kota Bekasi, Farid Elhakamy, menyebut kenaikan kurs Dollar AS mulai terasa dampaknya, terutama bagi industri yang menggunakan bahan baku impor. (istimewa)

METROBEKASI.ID - Kenaikan kurs Dollar AS dan melemahnya nilai tukar rupiah mulai memberikan dampak nyata terhadap dunia industri di Kota Bekasi.

Perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor kini mulai merasakan tekanan akibat melonjaknya biaya produksi.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Bekasi mengungkapkan, kondisi tersebut mulai dikeluhkan sejumlah pelaku industri, terutama setelah nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.667 per Dollar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Kasus Kurir Shopee Xpress Dikeroyok di Medan Satria Belum Tuntas, Kuasa Hukum Desak Polisi Bertindak Cepat

Ketua Apindo Kota Bekasi, Farid Elhakamy, mengatakan, dampak pelemahan rupiah terhadap Dollar AS saat ini mulai terasa di berbagai sektor industri, khususnya perusahaan yang masih mengandalkan bahan baku impor.

“Bagi perusahaan dengan bahan baku impor, mulai mengeluhkan kenaikan harga bahan baku terhadap produknya,” ujar Farid melalui keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Menurut Farid, sejumlah perusahaan kini mulai mengambil langkah penyesuaian agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Baca Juga: Nekat Beraksi Siang Hari, Maling Motor di Kayuringin Bekasi Kepergok Warga, Pelaku Auto Kabur

Salah satu opsi yang dilakukan adalah menaikkan harga jual produk. Namun langkah itu juga tidak selalu mudah diterapkan.

Sebab, tidak semua pelanggan bisa menerima kenaikan harga di tengah kondisi pasar yang masih sensitif.

“Karena dampaknya mulai terasa. Ada customer yang memahami kondisi ini, tapi ada juga yang tidak bisa memahami,” katanya.

Baca Juga: Cuma Rp2 Ribu Sekali Nyebrang, Perahu Eretan Warung Ayu Masih Jadi Andalan Warga Babelan

Tak hanya itu, Farid menyebut para pelaku usaha juga mulai memutar otak untuk melakukan efisiensi di berbagai lini.

Beberapa perusahaan bahkan mengurangi volume Purchase Order (PO) agar pengeluaran tetap terkendali.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini