Kamis, 4 Juni 2026

Usai Insiden Mobil Operasional MBG Tabrak Warga hingga Tewas, BPKN Desak BGN Audit Total Dapur SPPG Bermasalah

Noviati Fajar Anugrah, Metro Bekasi
- Minggu, 17 Mei 2026 | 06:11 WIB
Ketua BPKN Prof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok, saat memberikan keterangan soal insiden maut mobil operasional MBG di Aren Jaya 2, Bekasi Timur, Sabtu (16/5/2026). (mame/metropolitan)
Ketua BPKN Prof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok, saat memberikan keterangan soal insiden maut mobil operasional MBG di Aren Jaya 2, Bekasi Timur, Sabtu (16/5/2026). (mame/metropolitan)

METROBEKASI.ID - Insiden mobil operasional program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menabrak seorang warga hingga meninggal dunia di kawasan Aren Jaya, Bekasi Timur, menuai sorotan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Ketua BPKN, Prof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok, mengaku prihatin atas insiden tersebut.

Menurutnya, kejadian tersebut bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan tragedi kemanusiaan yang harus menjadi evaluasi besar bagi pelaksanaan program MBG.

“Kita cukup prihatin karena korban meninggal ini tentu tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Harapan kita MBG harus hati-hati sekali, apalagi program ini sudah memasuki tahun kedua. Mestinya SOP-nya semakin ketat dan kejadian seperti ini tidak boleh lagi kita maafkan,” kata Mufti kepada metrobekasi.id, Sabtu 16 Mei 2026.

Baca Juga: Nggak Ribet Lagi! Urus Administrasi Kini Lebih Praktis, Warga Bekasi Cukup Pakai IKD

Mufti pun meminta kepala Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan audit menyeluruh terhadap dapur-dapur SPPG yang terindikasi bermasalah.

Ia menilai evaluasi harus dilakukan secara serius agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kami menginstruksikan kepada kepala BGN untuk melakukan audit total. Kalau sampai ada korban meninggal, tentu harus ada sanksi. Walaupun kejadiannya di luar dapur, tapi itu masih dalam rangkaian tugas distribusi MBG,” tegasnya.

Ia menambahkan, insiden tersebut menjadi catatan penting bagi BGN dalam memperkuat Standar Operasional Prosedur (SOP), terutama terkait distribusi makanan dan keselamatan kerja.

Baca Juga: Apa Itu Lululemon? Brand Tas Premium asal Kanada yang Hilang di Kargo Bandara Soetta, Kerugiannya Disebut Capai Rp1 Miliar

Menurutnya, keberadaan dapur MBG tidak hanya soal memasak dan mengirim makanan, tetapi juga menyangkut keamanan, kenyamanan, hingga keselamatan masyarakat.

“SOP harus benar-benar diperhatikan. Tidak sekadar bikin dapur, tapi kualitasnya juga. Kemudian bukan hanya soal mengantar barang, tapi bagaimana keamanan, kenyamanan, dan keselamatan itu menjadi prioritas,” ujarnya.

Tak hanya itu, Mufti juga menyoroti praktik overlap pekerjaan di sejumlah SPPG.

Ia menilai sopir operasional tidak boleh dirangkap untuk membantu proses produksi makanan karena berpotensi membahayakan saat bertugas mengantar distribusi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini