Baca Juga: Tetangga Ungkap Sosok G, Paman yang Tega Habisi Nyawa Keponakan Balita di Bekasi
Pertemuan terakhir Asep dengan korban terjadi pada Senin (26/5/2026) malam. Saat itu, ia berpamitan untuk berlibur ke Tasikmalaya. Tidak ada gelagat mencurigakan ataupun perubahan sikap yang ditunjukkan korban.
"Terakhir ketemu malam itu. Saya cuma izin mau ke Tasikmalaya untuk liburan. Tidak ada apa-apa," katanya.
Dua hari kemudian, Asep justru menerima kabar mengejutkan bahwa SBC telah meninggal dunia. Ia segera kembali ke Tambun Selatan dan mendatangi rumah korban.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, putri korban menjadi orang pertama yang menemukan ayahnya dalam kondisi mengenaskan saat pulang ke rumah.
Baca Juga: Upacara Hari Lahir Pancasila Sepi Pejabat, Ini Kata Plh Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe
Awalnya, kematian SBC sempat diduga berkaitan dengan penyakit jantung yang dideritanya.
Namun dugaan tersebut berubah setelah ditemukan luka tusuk serta bekas kekerasan di bagian leher korban.
"Setahu saya memang punya penyakit jantung. Tapi ternyata ada luka tusuk dan bekas pemukulan di leher. Kalau pisaunya tidak ditemukan," ujar Asep.
Polisi yang menerima laporan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi jenazah korban ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani autopsi.
Baca Juga: Usai Viral dan Dikecam Warganet, Pria yang Intimidasi Kreator Konten di Bekasi Akhirnya Minta Maaf
Sementara Ketua RW 02 Desa Lambangsari, Jahid, menyebut korban dikenal sebagai sosok tertutup dan minim interaksi dengan masyarakat.
"Untuk Mr. Sang, kesehariannya dalam bermasyarakat memang agak tertutup," ujarnya. Menurut Jahid, korban tinggal seorang diri sejak berpisah dengan istrinya sekitar tiga tahun lalu.
Dari tiga anak yang dimiliki korban, hanya putri sulungnya yang diketahui masih sering datang ke rumah untuk menjenguk sang ayah.
Selain dikenal tertutup, kondisi rumah korban juga disebut membuat aktivitas di dalamnya sulit dipantau warga.