Baca Juga: Aksi Kakek Misterius Keliling dan Ketuk Pagar Rumah Warga Bikin Penghuni Perumahan di Bekasi Cemas
Ia bahkan mempertanyakan alasan tuntutan terhadap dirinya disebut lebih berat dibanding pelaku pembunuhan maupun terorisme.
“Kenapa tuntutan saya lebih besar daripada pembunuh? Tuntutan saya lebih besar daripada teroris?” ujarnya.
Nadiem juga mengaku tersakiti dengan tuntutan uang pengganti bernilai triliunan rupiah karena dirinya merasa tidak memiliki harta sebanyak itu.
“Tidak cukup saya dimasukkan ke penjara, mereka menggunakan uang pengganti sebesar Rp4 triliun plus Rp809 miliar,” ucapnya.
Baca Juga: Puluhan Warga Depok Kena Tipu Minyak Goreng Murah, Kerugiannya Capai Rp10 Miliar
Menurut Nadiem, jika tuntutan tersebut dikabulkan dan ia tidak mampu membayar uang pengganti, maka total ancaman hukuman yang dihadapinya bisa mencapai 27 tahun penjara.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Nadiem menegaskan dirinya tidak pernah menyesal bergabung dalam pemerintahan.
“Saya akan ucapkan sekali lagi, saya tidak pernah menyesal bergabung dalam pemerintah. Untuk mencari uang itu bisa seumur hidup. Untuk membantu generasi penerus bangsa kita menjadi lebih baik, itu hanya kesempatan sekali dalam hidup,” katanya.
Ia juga mengaku siap menerima risiko demi bisa berkontribusi terhadap masa depan pendidikan Indonesia.
Baca Juga: Tempat Nongkrong dan Lifestyle Baru Hadir di Bekasi, Usung Konsep Alfresco yang Modern dan Estetik
“Mau saya gagal pun, risiko gagal, risiko masuk penjara pasti saya ambil karena masa depan Indonesia itu lebih penting dari segala risiko ini,” sambungnya.
Meski demikian, Nadiem mengaku sakit hati dengan situasi yang kini dihadapinya setelah merasa telah mengabdikan diri untuk negara selama bertahun-tahun.
“Saya sakit hati, saya patah hati. Orang itu cuma patah hati kalau dia cinta dengan negara,” pungkasnya.