“Target kami hingga tahun 2030, mudah-mudahan Delana sudah bisa masuk ke pasar global untuk mode fashion halal ini,” tegasnya.
Meski mengakui daya beli masyarakat saat ini sedang melemah, Firtiani tetap yakin produknya mampu bersaing di pasar.
Ia percaya konsumen kini mulai lebih selektif dan memiliki kesadaran terhadap kualitas produk yang digunakan.
Menurutnya, Delana Fashion terus melakukan inovasi desain agar harga produksi bisa lebih efisien tanpa mengurangi kualitas maupun kenyamanan produk.
“Ketika masyarakat punya literasi dan kesadaran yang bagus, saya rasa tidak ada masalah. Kami mencoba menghadirkan desain yang bisa menekan biaya produksi sehingga tetap terjangkau,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Prof. Dr. H. Muhammad Mufti Mubarok menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat industri halal dunia, termasuk di sektor fashion.
Menurutnya, potensi Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar harus dimanfaatkan secara maksimal agar mampu bersaing dengan negara lain.
“Kita punya potensi besar dan tidak kalah dengan negara tetangga. Fashion halal ini bisa menjadi kekuatan baru Indonesia,” kata Mufti.
Baca Juga: Demi Cepat Sampai, Warga Cikarang Barat Rela Bayar Rp5 Ribu buat Angkat Motor Sebrangi Rel
Ia juga menegaskan bahwa konsep halal saat ini tidak cukup hanya berbicara soal label, tetapi juga harus mencakup unsur halalan, thayyiban dan mubarokan atau yang disebut HTM.
Dengan konsep tersebut, Mufti berharap Delana Fashion bisa menjadi salah satu pelopor kebangkitan fashion halal Indonesia, bahkan menembus pasar ekspor dalam waktu dekat.
“Mudah-mudahan tahun depan Delana sudah bisa ekspor. Sekarang kita persiapkan dari hulu sampai hilir industrinya,” pungkasnya.(mame)