METROBEKASI.ID - Video sejumlah warga Desa Sumbersari, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, yang mengucap sumpah di atas Al-Qur’an viral di media sosial.
Mereka menyatakan siap setia mendukung Kepala Desa (Kades) Nurfadilah kembali terpilih pada Pilkades 2026.
Seperti dilansir dari Instagram gue_cikarang.co.id pada Jumat (29/5/2026), tampak seorang aparatur pemerintah desa diduga mengikuti prosesi Sumpah Alquran untuk tetap mendukung Nurfadilah agar kembali terpilih pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026.
Prosesi sumpah ini dipandu seorang warga dan disaksikan beberapa orang lainnya. Dengan memegang Al-Qur’an, warga tersebut mengucapkan janji untuk tidak berkhianat kepada kepala desa.
Baca Juga: Diduga Curi Motor, Pria Ini Nyaris Babak Belur Usai Kepergok Warga Ngumpet di Gorong-gorong
“Demi Allah, saya bersumpah saya diri saya tidak akan mengkhianati Kepala Desa Sumbersari,” ucap seorang warga.
Warga tersebut juga menyatakan dukungan penuh kepada Nurfadilah agar kembali memimpin Desa Sumbersari pada periode berikutnya.
“Makanya saya bersumpah mendukung penuh kepada Ibu Lurah Nurfadilah, SH,” lanjutnya.
Tak sampai di situ, warga Pebayuran juga menyatakan siap menerima azab dan kesengsaraan apabila mengingkari janji yang telah diucapkan.
Baca Juga: SPMB Kota Bekasi 2026 Diserbu Pendaftar, Ribuan Berkas Masih Diverifikasi Disdik
“Bilamana saya ingkar janji, saya menerima dikasih azab sengsara, baik diri saya dan keluarga saya,” katanya.
Dalam video yang sama, beberapa warga lain juga terlihat mengikuti sumpah serupa. Mereka siap mendukung Kepala Desa Sumbersari beserta keluarganya demi kemenangan pada Pilkades mendatang.
“Demi Allah, saya bersumpah bahwa saya setia kepada Ibu Lurah Nurfadilah dan saya ke depannya siap mendukung sepenuhnya dari pihak saya dan keluarga saya. Bilamana saya ingkar, saya akan diazab sengsara baik diri saya maupun keluarga saya dunia akhirat,” ucap warga lainnya.
Viralnya video tersebut langsung memicu beragam komentar dari masyarakat. Sebagian menilai prosesi itu sebagai bentuk loyalitas politik, namun tak sedikit pula yang menganggap cara tersebut berlebihan dan tidak sesuai dengan semangat demokrasi dalam Pilkades.